Jumat, 29 November 2019

Menjadi Guru di Revolusi Indutri 4.0


Menjadi Guru di Revolusi Indutri 4.0
Oleh :
Desy Apriana
(Pengajar SMP Al Kautsar Bandar Lampung)


Memasuki awal abad ke-21 muncul istilah revolusi industri 4.0, dan hal ini menjadi  isu nasional yang ‘ramai’ diperbincangkan oleh semua orang. Apabila tidak disikapi dengan baik, revolusi industri 4.0 akan  menjadi sebuah momok yang menakutkan. Tidak dapat kita pungkiri bahwa di era revolusi industri  4.0 ini menjadikan teknologi semakin canggih dan berkembang pesat. Kondisi ini  suka tidak suka, mau tidak mau  telah  membawa perubahan-perubahan besar yang cukup signifikan di berbagai lintas sektor kehidupan manusia, terlebih lagi dalam bidang pendidikan.

Tuntutan guru zaman now lebih berat dari zaman sebelumnya. Guru pada masa dahulu terbiasa  dengan pembelajaran  tradisional yang bersikap otoriter dalam penguasaan kelas.  Di era revolusi industri 4.0 ini lebih menuntut seorang  guru untuk siap dan harus bisa berperan aktif memfasilitasi kegiatan proses pembelajaran yang tuntutannya harus berpusat pada siswa, sesuai dengan salah satu fungsi guru yaitu berperan sebagai fasilisator. Kondisi  zaman “kekinian” seperti ini menjadikan seorang guru tidak boleh terlena dengan kondisi yang ada, guru pada masa kini dituntut harus terus meng-upgrade diri dan terus belajar agar bisa menjadi guru yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang mumpuni dan berkualitas. Dalam penggunaan teknologi pun, seorang guru dituntut harus menguasai agar tidak kalah pintar dalam penggunaan teknologi oleh seluruh siswanya.

Guru keberadaannya adalah sebagai ujung tombak dunia pendidikan  yang harus mampu tampil unggul di zaman sekarang ini. Dunia pendidikan  mendambakan memiliki guru-guru yang cerdas dan inovatif. Sudah menjadi sebuah tuntutan bahwa guru harus  kreatif dalam kegiatan pembelajaran agar dapat mengubah situasi pembelajaran menjadi menarik dan efektif sekaligus mengajak siswa lebih aktif. Saat ini adalah era teknologi digital sehingga ide pembelajaran yang bisa kembangkan lebih banyak lagi yang berhubungan dengan teknologi digital karena tidak bisa dipungkiri secara mayoritas siswa akan lebih tertarik menghadapi sesuatu yang up to date.

Dalam  kesehariannya menjalankan tugas, seorang guru tidak hanya sebagai pengajar, guru dituntut  penuh untuk inovatif dalam setiap kegiatan pembelajaran. Seorang guru harus mengedepankan inovasi dalam  pembelajaran, diantaranya  selalu meningkatkan kemampuan dalam hal  kemampuan penggunaan  teknologi, karena hal ini  merupakan kekuatan pendorong terhadap inovasi dan kesuksesan dalam kegiatan proses belajar mengajar. Tidak dapat dipungkiri, salah satu teknologi dalam revolusi industri 4.0 adalah melahirkan pembelajaran jarak jauh. Kini, semua siswa bisa berinteraksi dengan gurunya kapanpun dan dimanapun. Tidak hanya dengan gurunya siswa pun bisa berinteraksi dengan aneka ragam siswa seluruh di belahan dunia. Gurupun bersama dengan pendidik lainnya yang berbeda wilayah bisa  berinteraksi bekerja sama dalam proyek pendidikan.

Beberapa tantangan yang harus dihadapi guru di era revolusi industri 4.0 adalah pertama, mengatasi penyakit TBC (tidak bisa computer). Pesatnya kemajuan teknologi, mengharuskan guru harus menjadi guru pembelajar, artinya setiap waktu guru harus senantiasa terus belajar dan mengembangkan diri di setiap saat dan dimanapun. Siswa yang dihadapi guru saat ini merupakan generasi millenial yang tidak asing lagi dengan dunia digital. Jangan sampai timbul istilah, peserta didik era industri 4.0 diajar oleh guru revolusi industri 3.0 atau diajar guru revolusi industri 2.0, bahkan yang lebih parah lagi diajar oleh guru revolusi  industri 1.0. Jika  ini terjadi, maka pendidikan kita akan terus tertinggal dibandingkan negara lain yang telah siap menghadapi perubahan besar tersebut. Jika guru tidak mempersiapkan kedatangan revolusi digital ini, guru bukan hanya dikalahkan dengan teknologi, tapi guru guru juga akan dikalahkan oleh para siswanya.

Tantangan kedua, problem pengelolaan kelas. Guru seringkali mengeluh ketika mengajar di kelas, apalagi jika kelas yang dikelolanya adalah kelas yang mayoritas peserta didiknya memiliki kecerdasan rendah, kurang disiplin, malas belajar, dan tidak patuh terhadap perintah guru. Guru yang cerdas pasti mampu menggunakan strategi untuk mengatasi hal-hal tersebut, salah satunya dengan menggunakan variasi model dan media pembelajaran agar peserta didik tertarik dan termotivasi untuk belajar. Seorang guru harus mampu mengembangkan kreatifitas memilih strategi pembelajaran yang sesuai. Penggunaan strategi pembelajaran yang sesuai antara materi, metode dan media pembelajaran dapat mewujudkan tercapainya tolak ukur keberhasilan proses belajar mengajar, sehingga dapat mencetak generasi cerdas dari rahim dunia pendidikan.

Tantangan ketiga, problem komunikasi. Guru sering kali memiliki kecenderungan untuk dimengerti dan dihargai oleh peserta didiknya. Padahal seharusnya gurulah yang harus mengerti kondisi mereka terlebih dahulu. Setelah guru mengerti kondisi peserta didik  secara tidak langsung peserta didik akan mau mengerti kondisi gurunya. Sebuah kutipan dari Quantum Learning mengatakan bahwa untuk lebih memudahkan ketertarikan siswa pada guru, guru harus lebih dulu masuk ke dunia mereka, setelah guru memasuki dunia mereka maka selanjutnya ajaklah mereka ke dunia kita. Dengan kata lain peran komunikasi sangat penting karena sebagai jembatan untuk menyampaikan informasi dari seorang guru kepada siswa-siswanya agar maksud dan tujuan tercapai.

Kemampuan dan kreatifitas  guru-guru cerdas yang berkarakter dalam era globalisasi dunia pendidikan saat ini sangat  dibutuhkan. Peran guru harus berjalan, tidak hanya sebagai pembimbing, guru harus bisa berperan sebagai sebagai evaluator dan motivator, dan konselor. Untuk menjadikan guru-guru cerdas di era revolusi industri 4.0 ini tidaklah seperti membalikkan telapak tangan,  harus ada peran  serta pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan dan program-program peningkatan mutu guru selain dalam  bentuk diberi kemudahan untuk memperoleh sertifikasi guru. Pelatihan-pelatihan guru harus digalakkan lebih intensif  lagi sehingga guru diberi ruang khusus untuk selalu meng-apgrade kemampuannya. Seiring dengan kemajuan teknologi, ketika seorang guru bisa mengikuti perkembangan tersebut dengan baik dengan selalu meningkatkan potensi diri, yakinlah bahwa kehadiran seorang guru tidak dapat tergantikan oleh teknologi, tapi dengan teknologi pada genggaman seorang guru maka pembelajaran akan menjadi maju dan bermartabat. jangan lupa pula, seorang guru jangan pernah bosan untuk selalu memberikan nasehat-nasehat kepada peserta didik, mencontohkan karakter-karakter yang baik, dan dengan melaksanakan bimbingan dengan penuh kasih sayang hanya bisa dilakukan oleh guru karena tidak akan pernah bisa dilakukan oleh mesin atau internet secanggih apapun. Jadi, ayo siapikan diri menjadi Guru yag inovasi di era revolusi 4.0.

*****************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya oleh : Desy Apriana, S.E., M.Pd SMP Al Kautsar Bandar Lampung CGP Angkatan 2...