Menjadi Guru di Revolusi Indutri 4.0
Oleh
:
Desy
Apriana
(Pengajar
SMP Al Kautsar Bandar Lampung)
Memasuki awal abad ke-21 muncul istilah revolusi industri
4.0, dan hal ini menjadi isu nasional yang
‘ramai’ diperbincangkan oleh semua orang. Apabila tidak disikapi dengan baik, revolusi industri 4.0 akan menjadi sebuah momok yang menakutkan. Tidak
dapat kita pungkiri bahwa di era revolusi industri 4.0 ini menjadikan teknologi semakin canggih
dan berkembang pesat. Kondisi ini suka
tidak suka, mau tidak mau telah membawa perubahan-perubahan besar yang cukup
signifikan di berbagai lintas sektor kehidupan manusia, terlebih lagi dalam
bidang pendidikan.
Tuntutan guru zaman now
lebih berat dari zaman sebelumnya. Guru pada masa dahulu terbiasa dengan pembelajaran tradisional yang bersikap otoriter dalam
penguasaan kelas. Di era revolusi
industri 4.0 ini lebih menuntut seorang
guru untuk siap dan harus bisa berperan aktif memfasilitasi kegiatan
proses pembelajaran yang tuntutannya harus berpusat pada siswa, sesuai dengan salah
satu fungsi guru yaitu berperan sebagai fasilisator. Kondisi zaman “kekinian” seperti ini menjadikan seorang
guru tidak boleh terlena dengan kondisi yang ada, guru pada masa kini dituntut harus
terus meng-upgrade diri dan terus
belajar agar bisa menjadi guru yang mampu menghasilkan sumber daya manusia yang
mumpuni dan berkualitas. Dalam penggunaan teknologi pun, seorang guru dituntut
harus menguasai agar tidak kalah pintar dalam penggunaan teknologi oleh seluruh
siswanya.
Guru keberadaannya adalah sebagai ujung tombak dunia
pendidikan yang harus mampu tampil unggul di zaman sekarang ini. Dunia
pendidikan mendambakan memiliki guru-guru yang cerdas dan inovatif. Sudah
menjadi sebuah tuntutan bahwa guru harus kreatif dalam kegiatan
pembelajaran agar dapat mengubah situasi pembelajaran menjadi menarik dan
efektif sekaligus mengajak siswa lebih aktif. Saat ini adalah era teknologi
digital sehingga ide pembelajaran yang bisa kembangkan lebih banyak lagi yang berhubungan
dengan teknologi digital karena tidak bisa dipungkiri secara mayoritas siswa
akan lebih tertarik menghadapi sesuatu yang up to date.
Dalam kesehariannya
menjalankan tugas, seorang guru tidak hanya sebagai pengajar, guru dituntut penuh untuk inovatif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Seorang guru harus mengedepankan inovasi dalam pembelajaran, diantaranya selalu meningkatkan kemampuan dalam hal kemampuan penggunaan teknologi, karena hal ini merupakan kekuatan pendorong terhadap inovasi
dan kesuksesan dalam kegiatan proses belajar mengajar. Tidak dapat dipungkiri,
salah satu teknologi dalam revolusi industri 4.0 adalah melahirkan pembelajaran
jarak jauh. Kini, semua siswa bisa berinteraksi dengan gurunya kapanpun dan
dimanapun. Tidak hanya dengan gurunya siswa pun bisa berinteraksi dengan aneka
ragam siswa seluruh di belahan dunia. Gurupun bersama dengan pendidik lainnya
yang berbeda wilayah bisa berinteraksi
bekerja sama dalam proyek pendidikan.
Beberapa tantangan yang harus dihadapi guru di era revolusi
industri 4.0 adalah pertama, mengatasi penyakit TBC (tidak bisa computer). Pesatnya kemajuan teknologi, mengharuskan
guru harus menjadi guru pembelajar, artinya setiap waktu guru harus senantiasa terus
belajar dan mengembangkan diri di setiap saat dan dimanapun. Siswa yang
dihadapi guru saat ini merupakan generasi millenial yang tidak asing lagi
dengan dunia digital. Jangan sampai timbul istilah, peserta didik era industri
4.0 diajar oleh guru revolusi industri 3.0 atau diajar guru revolusi industri
2.0, bahkan yang lebih parah lagi diajar oleh guru revolusi industri 1.0. Jika ini terjadi, maka
pendidikan kita akan terus tertinggal dibandingkan negara lain yang telah siap
menghadapi perubahan besar tersebut. Jika guru tidak mempersiapkan kedatangan
revolusi digital ini, guru bukan hanya dikalahkan dengan teknologi, tapi guru guru
juga akan dikalahkan oleh para siswanya.
Tantangan kedua, problem pengelolaan kelas. Guru seringkali
mengeluh ketika mengajar di kelas, apalagi jika kelas yang dikelolanya adalah
kelas yang mayoritas peserta didiknya memiliki kecerdasan rendah, kurang
disiplin, malas belajar, dan tidak patuh terhadap perintah guru. Guru yang
cerdas pasti mampu menggunakan strategi untuk mengatasi hal-hal tersebut, salah
satunya dengan menggunakan variasi model dan media pembelajaran agar peserta
didik tertarik dan termotivasi untuk belajar. Seorang guru harus mampu
mengembangkan kreatifitas memilih strategi pembelajaran yang sesuai. Penggunaan
strategi pembelajaran yang sesuai antara materi, metode dan media pembelajaran
dapat mewujudkan tercapainya tolak ukur keberhasilan proses belajar mengajar, sehingga
dapat mencetak generasi cerdas dari rahim dunia pendidikan.
Tantangan ketiga, problem komunikasi. Guru sering kali memiliki
kecenderungan untuk dimengerti dan dihargai oleh peserta didiknya. Padahal
seharusnya gurulah yang harus mengerti kondisi mereka terlebih dahulu. Setelah
guru mengerti kondisi peserta didik secara tidak langsung peserta
didik akan mau mengerti kondisi gurunya. Sebuah kutipan dari Quantum Learning mengatakan bahwa untuk
lebih memudahkan ketertarikan siswa pada guru, guru harus lebih dulu masuk ke
dunia mereka, setelah guru memasuki dunia mereka maka selanjutnya ajaklah
mereka ke dunia kita. Dengan kata lain peran komunikasi sangat penting karena
sebagai jembatan untuk menyampaikan informasi dari seorang guru kepada siswa-siswanya
agar maksud dan tujuan tercapai.
Kemampuan dan kreatifitas guru-guru cerdas yang
berkarakter dalam era globalisasi dunia pendidikan saat ini sangat dibutuhkan. Peran guru harus berjalan, tidak
hanya sebagai pembimbing, guru harus bisa berperan sebagai sebagai evaluator
dan motivator, dan konselor. Untuk menjadikan guru-guru cerdas di era
revolusi industri 4.0 ini tidaklah seperti membalikkan telapak tangan, harus ada peran serta pemerintah mengeluarkan
kebijakan-kebijakan dan program-program peningkatan mutu guru selain dalam bentuk diberi kemudahan untuk memperoleh sertifikasi
guru. Pelatihan-pelatihan guru harus digalakkan lebih intensif lagi sehingga guru diberi ruang khusus untuk selalu
meng-apgrade kemampuannya. Seiring
dengan kemajuan teknologi, ketika seorang guru bisa mengikuti perkembangan
tersebut dengan baik dengan selalu meningkatkan potensi diri, yakinlah bahwa
kehadiran seorang guru tidak dapat tergantikan oleh teknologi, tapi dengan teknologi pada genggaman seorang guru maka pembelajaran akan menjadi maju dan bermartabat. jangan lupa pula, seorang guru jangan pernah bosan untuk selalu memberikan
nasehat-nasehat kepada peserta didik, mencontohkan karakter-karakter yang baik, dan dengan melaksanakan bimbingan dengan
penuh kasih sayang hanya bisa dilakukan oleh guru karena tidak akan pernah bisa dilakukan oleh mesin atau internet
secanggih apapun. Jadi, ayo siapikan diri menjadi Guru yag inovasi di era revolusi 4.0.
*****************

Tidak ada komentar:
Posting Komentar