Kamis, 08 Agustus 2019

ACEH DALAM SEJARAH KERAJAAN ISLAM NUSANTARA
Oleh
Desy Apriana

Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki citra dan pesona luar biasa. Aceh disebut sebagai serambi mekah bukan tidak ada historinya, semua orang mengetahui itu,  ketika menyebut serambi Mekah pasti semua nya tertuju pada provinsi paling utara di Pulau Sumatera ini.

Mengapa disebut Serambi Mekah? Sebagaimana diketahui, serambi atau teras merupakan bagian dari bangunan rumah yang paling awal ditemui sebelum pintu masuk, berkenaan bahwa Aceh pernah berperan sebagai daerah masuknya ajaran Islam pertama di Indonesia. Selain itu, sebagian riwayat mencatat bahwa istilah nama Serambi Mekkah diperuntukkan bagi Aceh sebab pada masa silam, sebelum media transportasi berkembang pesat seperti sekarang, apabila warga Indonesia hendak pergi haji ke Mekkah, maka harus melalui jalur Aceh sebagai lokasi pelayaran kapal yang paling dekat dengan ibu kota negara suci umat Islam tersebut.

Perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam dimulai tepatnya tahun 674 ketika Dinasti Umayyah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Sejak itu para pelaut dan pedagang muslim terus berdatangan abad demi abad. Mereka melakukan hubungan dagang, membeli hasil bumi dari Indonesia sambil berdakwah, hubungan dagangpun terjalin antara saudagar Indonesia dengan saudagar muslim seperti Arab, Tiongkok, Gujarat, Turki dan Persia.

Melalui perdagangan, diperkenalkanlah ajaran Islam, sebuah ajaran yang menjunjung persamaan derajat dan rasa toleransi diantara sesama manusia. Penduduk yang merasa tertarik akhirnya menganut agama Islam dan mengikuti aturan-aturan yang ada didalamnya dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain melalui perdagangan, ada beberapa jalur lain yang digunakan dalam masuknya Islam di Aceh yaitu  melalui pernikahan, pendidikan dan kesenian.

Pernikahan antara pedagang muslim, mubaligh dengan anak bangsawan Indonesia ataupun dengan penduduk setempat, membentuk sebuah ikatan kekerabatan yang besar antara pihak laki-laki dan keluarga pihak wanita. Penyebaran agama Islam melalui pendidikan di lakukan oleh para ulama dan guru-guru agama Islam dengan mendirikan lembaga-lembaga Islam, sebagai contohnya adalah pesantren dan penyebaran agama Islam melalui pertujunjukan seni dilakukan dengan cara memasukkan unsur-unsur agama Islam ke dalam cerita dalam pertunjukan wayang sehingga akhirnya dapat menarik rmasyarakat memeluk agama Islam.

Kerajaan Perlak.
Kerajaan Islam pertama ini berlokasi di Aceh Timur, daerah Perlak di Aceh sekarang. muncul pada abad ke-9 dan bertahan hingga akhir abad ke-13. Bukti-bukti keberadaannya adalah naskah Idhar al-Haq karya Abu Ishak Makarani,  naskah Tadzkirah Thabat Jumu Sulthan As-Salathin karya Syaikh Syamsul Bahri Abdullah al-Asyi, dan naskah Silsilah Raja-Raja Perlak dan Pasai karya Sayyid Abdullah ibn Sayyid Habib Saifuddin,  selain itu ditemukan mata uang dari emas, perak dan tembaga, stempel kerajaan dan makam Raja Benoa.

Kerajaan Perlak banyak ditumbuhi kayu perlak, yang merupakan bahan pembuatan kapal sehingga tak heran kalau para pedagang dari Gujarat, Arab dan India tertarik untuk datang ke sini untuk membeli kayu tersebut. Kerajaan Perlak pun  memiliki pelabuhan perniagaan yang maju dan aman sehingga menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dagang orang-orang Arab dan Persia.  Pada awal abad ke-8, Kerajaan Perlak berkembang sebagai bandar niaga yang amat maju. Raja pertamanya adalah Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah.

Sultan Perlak ke-17, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat, melakukan politik persahabatan dengan negeri-negeri tetangga. Ia menikahkan dua orang puterinya dengan para pemimpin kerajaan tetangga, yaitu putri Ratna Kamala dinikahkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara) dan Putri Ganggang dinikahkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, Al-Malik Al-Saleh.

Kerajaan Perlak berakhir setelah Sultan yang ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat meninggal pada tahun 1292. Pada akhirnya Kesultanan Perlak kemudian menyatu dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah kekuasaan Sultan Samudera Pasai yang memerintah pada saat itu, yaitu Sultan Muhammad Malik Al Zahir yang juga merupakan putera dari Al-Malik Al-Saleh.


Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan yang bernama Samudra, didirikan oleh Marah Silu, yang bergelar Sultan Malik Al Saleh sekitar tahun 1267, terletak di Aceh Utara tidak jauh dari Pasai. Setelah ibu kota dipindahkan ke Pasai, kerajaan ini berganti nama Samudra Pasai. Letaknya yang sangat strategis menjadikan kerajaan Samudra Pasai sebagai pintu gerbang untuk memasuki Indonesia bagian barat, dan menjadi tempat berkumpulnya saudagar saudagar Islam dari Gujarat, Persia, Tiongkok, dan Arab.

Keberadaan Kerajaan Samudera Pasai tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini pada tahun 1345, dan Hikayat Raja-raja Pasai, dan penemuan koin berbahan emas dan perak dengan tertera nama rajanya.

Pemerintahan Sultan Malik As-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Malik Az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di Pasai, seiring dengan berkembangnya Kerajaan Samudera Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam.

Sultan Muhammad Malik Az-Zahir meninggal dunia tahun 1326 dan digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud Malik az-Zahir  (1326-1345). Selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir  datang serangan dari Majapahit antara tahun 1345 dan 1350, dan menyebabkan Sultan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan. Kerajaan Samudera Pasai kembali bangkit dibawah pimpinan Sultan Zain al-Abidin Malik Az-Zahir tahun 1383, dan memerintah sampai tahun 1405.

Secara geografis Kesultanan Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi disebelah selatan dan timur, ke arah timur berbatasan dengan Kerajaan Aru, sebelah utara dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan, Nakur dan Lide. Pusat pemerintahan Kesultanan Pasai terletaknya antara Krueng Jambo Aye (Sungai Jambu Air) dengan Krueng Pase (Sungai Pasai), Aceh Utara. 

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak telah menjadi bagian dari kedaulatan Pasai. Namun pada masa Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, kawasan Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai yang tetap berpusat di Pasai. Pasai merupakan kota dagang, dan yang menjadi komoditi andalannya adalah lada. Kehidupan masyarakat Pasai umumnya menanam padi di ladang dan  memilki sapi perah yang susunya dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan   keju. Kehidupan sosial budaya masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi pada upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Persamaan  inilah yang  memudahkan penerimaan agama Islam di Malaka ditambah lagi dengan  adanya pernikahan antara putri Pasai dengan raja Malaka membuat hubungan ini semakin erat.

Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yang mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin menceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun 1521 yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan aceh.

Kesultanan Aceh Darussalam.
Kesultanan Aceh Darussalam memulai pemerintahannya ketika Kerajaan Samudera Pasai  sedang dalam masa keruntuhan. Sultan Ali Mughayat mendirikan Kesultanan Aceh pada tahun 1496. Pemerintahaan kesultanan Aceh kemudian menundukan dan menyatukan beberapa wilayah kerajaan sekitarnya mencakup Daya, Pedir, Lidie, Nakur. Selanjutnya pada tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh diikuti dengan Aru.



Keberadaaan Kesultanan Aceh Darussalam dengan ditemukannya batu nisan makam Sultan Ali Mughayat Syah. Di batu nisan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam yang berada di Kandang XII Banda Aceh ini, disebutkan bahwa Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia pada tahun 1530. Selain itu, ditemukan juga batu nisan lain di Kota Alam, yang merupakan makam ayah Sultan Ali Mughayat Syah, yaitu Syamsu Syah, yang menyebutkan bahwa Syamsu Syah wafat pada 14 Muharram 737 Hijriah. Sebuah batu nisan lagi yang ditemukan di Kuta Alam adalah makam Raja Ibrahim yang kemudian diketahui bahwa ia adalah adik dari Sultan Ali Mughayat Syah.

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah
hanya 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, ia meninggal dunia Tahun 1530 Masehi. Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, tetapi ia berhasil  meletakkan dasar-dasar politik luar negeri Kesultanan Aceh Darussalam sehingga kerajaan Aceh menjadi kerajaan yang besar dan kokoh.  Dasar-dasar kebijakan politik ini tetap dijalankan oleh sultan-sultan penggantinya.

Kesultanan Aceh mengalami masa ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636). Kemunduran Aceh disebabkan oleh makin menguatnya kekuasaan Belanda di pulau Sumatera dan Selat Malaka dan adanya perebutan kekuasaan di antara pewaris tahta kesultanan yang turut berperan besar dalam melemahnya Kesultanan Aceh.

*********************************

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

3.2.a.10. Aksi Nyata - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya oleh : Desy Apriana, S.E., M.Pd SMP Al Kautsar Bandar Lampung CGP Angkatan 2...