ACEH DALAM SEJARAH KERAJAAN ISLAM NUSANTARA
Oleh
Desy Apriana
Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang
memiliki citra dan pesona luar biasa. Aceh disebut sebagai serambi mekah bukan
tidak ada historinya, semua orang mengetahui itu, ketika menyebut serambi Mekah pasti semua nya
tertuju pada provinsi paling utara di Pulau Sumatera ini.
Mengapa disebut Serambi Mekah? Sebagaimana diketahui, serambi atau
teras merupakan bagian dari bangunan rumah yang paling awal ditemui sebelum pintu
masuk, berkenaan bahwa Aceh
pernah berperan sebagai daerah masuknya ajaran Islam pertama di Indonesia.
Selain itu, sebagian riwayat mencatat bahwa istilah nama Serambi Mekkah
diperuntukkan bagi Aceh sebab pada masa silam, sebelum media transportasi berkembang
pesat seperti sekarang, apabila warga Indonesia hendak pergi haji ke Mekkah,
maka harus melalui jalur Aceh sebagai lokasi pelayaran kapal yang paling dekat
dengan ibu kota negara suci umat Islam tersebut.
Perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam dimulai
tepatnya tahun 674 ketika Dinasti Umayyah mendirikan pangkalan dagang di pantai
barat Sumatera. Sejak itu para pelaut dan pedagang muslim terus berdatangan
abad demi abad. Mereka melakukan hubungan dagang, membeli hasil bumi dari
Indonesia sambil berdakwah, hubungan dagangpun terjalin antara saudagar
Indonesia dengan saudagar muslim seperti Arab, Tiongkok, Gujarat, Turki dan
Persia.
Melalui perdagangan, diperkenalkanlah ajaran Islam,
sebuah ajaran yang menjunjung persamaan derajat dan rasa toleransi diantara
sesama manusia. Penduduk yang merasa tertarik akhirnya menganut agama Islam dan
mengikuti aturan-aturan yang ada didalamnya dan berusaha menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Selain melalui perdagangan, ada beberapa jalur lain yang
digunakan dalam masuknya Islam di Aceh yaitu
melalui pernikahan, pendidikan dan kesenian.
Pernikahan antara pedagang muslim, mubaligh dengan anak
bangsawan Indonesia ataupun dengan penduduk setempat, membentuk sebuah ikatan
kekerabatan yang besar antara pihak laki-laki dan keluarga pihak wanita. Penyebaran
agama Islam melalui pendidikan di lakukan oleh para ulama dan guru-guru agama
Islam dengan mendirikan lembaga-lembaga Islam, sebagai contohnya adalah pesantren
dan penyebaran agama Islam melalui pertujunjukan seni dilakukan dengan cara
memasukkan unsur-unsur agama Islam ke dalam cerita dalam pertunjukan wayang
sehingga akhirnya dapat menarik rmasyarakat memeluk agama Islam.
Kerajaan Perlak.
Kerajaan
Islam pertama ini berlokasi
di Aceh Timur, daerah Perlak di Aceh sekarang. muncul pada abad ke-9 dan
bertahan hingga akhir abad ke-13. Bukti-bukti
keberadaannya
adalah naskah Idhar al-Haq karya Abu
Ishak Makarani, naskah Tadzkirah
Thabat Jumu Sulthan As-Salathin karya Syaikh Syamsul Bahri Abdullah
al-Asyi, dan naskah Silsilah
Raja-Raja Perlak dan Pasai karya Sayyid Abdullah ibn Sayyid Habib
Saifuddin, selain itu ditemukan mata uang
dari emas, perak dan tembaga, stempel kerajaan dan makam Raja Benoa.
Kerajaan Perlak banyak ditumbuhi kayu perlak, yang
merupakan bahan pembuatan kapal sehingga tak
heran kalau para pedagang dari Gujarat, Arab dan India tertarik untuk datang ke
sini untuk membeli kayu tersebut. Kerajaan Perlak pun memiliki pelabuhan perniagaan yang maju dan
aman sehingga menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dagang orang-orang Arab
dan Persia. Pada
awal abad ke-8, Kerajaan Perlak berkembang sebagai bandar niaga yang amat maju.
Raja pertamanya adalah Sultan Alaidin Syed Maulana
Abdul Aziz Syah.
Sultan
Perlak ke-17, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat, melakukan politik
persahabatan dengan negeri-negeri tetangga. Ia menikahkan dua orang puterinya
dengan para pemimpin kerajaan tetangga, yaitu
putri Ratna Kamala dinikahkan dengan Raja Kerajaan Malaka,
Sultan Muhammad Shah (Parameswara) dan Putri Ganggang dinikahkan dengan Raja
Kerajaan Samudera Pasai, Al-Malik
Al-Saleh.
Kerajaan Perlak berakhir setelah
Sultan yang ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat
meninggal pada tahun 1292. Pada akhirnya Kesultanan
Perlak kemudian menyatu dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah kekuasaan Sultan Samudera Pasai yang
memerintah pada saat itu, yaitu Sultan
Muhammad Malik Al Zahir yang juga merupakan putera dari Al-Malik Al-Saleh.
Kerajaan Samudra Pasai
Kerajaan yang bernama Samudra, didirikan oleh Marah Silu,
yang bergelar Sultan Malik Al Saleh sekitar tahun 1267, terletak di Aceh Utara
tidak jauh dari Pasai. Setelah ibu kota dipindahkan ke Pasai, kerajaan ini
berganti nama Samudra Pasai. Letaknya yang sangat strategis menjadikan kerajaan
Samudra Pasai sebagai pintu gerbang untuk memasuki Indonesia bagian barat, dan
menjadi tempat berkumpulnya saudagar saudagar Islam dari Gujarat, Persia,
Tiongkok, dan Arab.
Keberadaan Kerajaan Samudera Pasai
tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) karya Abu
Abdullah ibn Batuthah (1304–1368), musafir Maroko yang singgah ke negeri ini
pada tahun 1345, dan Hikayat Raja-raja Pasai, dan
penemuan koin berbahan emas dan perak dengan tertera nama rajanya.
Pemerintahan Sultan Malik As-Saleh kemudian dilanjutkan oleh
putranya Sultan Muhammad Malik Az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada
masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik Az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di
Pasai, seiring dengan berkembangnya Kerajaan Samudera Pasai menjadi salah satu
kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam.
Sultan Muhammad Malik Az-Zahir meninggal dunia tahun 1326 dan digantikan
oleh anaknya Sultan Mahmud Malik az-Zahir (1326-1345).
Selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir datang serangan dari Majapahit antara tahun 1345 dan 1350,
dan menyebabkan Sultan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibukota
kerajaan. Kerajaan Samudera Pasai kembali bangkit dibawah
pimpinan Sultan Zain al-Abidin Malik Az-Zahir tahun 1383, dan memerintah sampai tahun 1405.
Secara geografis Kesultanan Pasai
dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan tinggi disebelah
selatan dan timur, ke arah timur berbatasan dengan Kerajaan Aru, sebelah utara
dengan laut, sebelah barat berbatasan dengan dua kerajaan, Nakur dan Lide.
Pusat pemerintahan Kesultanan Pasai terletaknya antara Krueng Jambo Aye (Sungai
Jambu Air) dengan Krueng Pase (Sungai Pasai), Aceh Utara.
Pada masa pemerintahan Sultan
Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak telah menjadi bagian dari kedaulatan
Pasai.
Namun pada masa Sultan Ahmad Malik Az-Zahir, kawasan Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan
nama Samudera Pasai yang tetap berpusat di Pasai. Pasai merupakan kota dagang, dan yang menjadi komoditi
andalannya adalah lada. Kehidupan masyarakat Pasai umumnya menanam padi di ladang dan memilki sapi perah yang susunya dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan keju. Kehidupan sosial budaya
masyarakat Pasai mirip dengan Malaka, seperti bahasa, maupun tradisi pada
upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Persamaan inilah yang memudahkan penerimaan
agama Islam
di Malaka ditambah lagi dengan adanya pernikahan
antara putri Pasai dengan raja Malaka membuat hubungan ini semakin erat.
Menjelang masa-masa akhir
pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yang
mengakibatkan perang saudara. Sulalatus Salatin menceritakan Sultan Pasai
meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut.
Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh
Portugal tahun 1521 yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan
kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan
Kesultanan aceh.
Kesultanan Aceh
Darussalam.
Kesultanan Aceh Darussalam memulai
pemerintahannya ketika Kerajaan Samudera Pasai sedang
dalam masa keruntuhan. Sultan Ali Mughayat mendirikan Kesultanan Aceh pada
tahun 1496. Pemerintahaan
kesultanan Aceh kemudian menundukan dan menyatukan beberapa wilayah kerajaan
sekitarnya mencakup Daya, Pedir, Lidie, Nakur. Selanjutnya pada tahun 1524
wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh diikuti dengan
Aru.
Keberadaaan Kesultanan Aceh Darussalam dengan ditemukannya
batu nisan makam Sultan Ali Mughayat Syah. Di batu nisan pendiri Kesultanan
Aceh Darussalam yang berada di Kandang XII Banda Aceh ini, disebutkan
bahwa Sultan Ali Mughayat Syah meninggal dunia pada tahun 1530. Selain itu, ditemukan juga
batu nisan lain di Kota Alam, yang merupakan makam ayah Sultan Ali Mughayat
Syah, yaitu Syamsu Syah, yang menyebutkan bahwa Syamsu Syah wafat pada 14
Muharram 737 Hijriah. Sebuah batu nisan lagi yang ditemukan di Kuta Alam adalah
makam Raja Ibrahim yang kemudian diketahui bahwa ia adalah adik dari Sultan Ali
Mughayat Syah.
Sultan Ali Mughayat Syah memerintah hanya 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, ia meninggal dunia Tahun 1530 Masehi. Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, tetapi ia berhasil meletakkan dasar-dasar politik luar negeri Kesultanan Aceh Darussalam sehingga kerajaan Aceh menjadi kerajaan yang besar dan kokoh. Dasar-dasar kebijakan politik ini tetap dijalankan oleh sultan-sultan penggantinya.
Kesultanan Aceh mengalami masa
ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607
- 1636). Kemunduran Aceh disebabkan oleh makin menguatnya kekuasaan Belanda di
pulau Sumatera dan Selat Malaka dan adanya perebutan kekuasaan di antara pewaris tahta kesultanan yang
turut berperan besar dalam melemahnya Kesultanan Aceh.
*********************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar